Tampilkan postingan dengan label renungan rohani kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan rohani kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2013

Menjadikan Kristus Sebagai Tuan Atas Hati Kita

Efesus 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Ketika kita datang ke rumah orang lain, kita adalah tamu bagi pemilik rumah tersebut. Sebagai tamu, kita mempunyai keterbatasan dalam bertindak.
Contoh:  ketika kita masuk ke rumah orang kita harus meminta izin terlebih dahulu. Bila diijinkan maka kita baru bisa masuk ke rumah orang tersebut.

Hal ini juga sering terjadi dengan dengan kita yang percaya kepada Yesus Kristus. Kita serimg menjadikan DIA sebagai tamu, bukan raja atas diri kita. Bukan Tuhan yang mengendalikan diri kita, tetapi kita yang mengendalikan diri kita sendiri. Hal ini tentunya bukan yang Tuhan mau. Tuhan tidak leluasa dalam memakai kita sebagai alat-Nya.

Ada kalanya ketika kita hendak melakukan sesuatu, hati kita merasa tidak damai, tentunya ada suatu hal yang membuat kita tidak tenang. Bila kita peka, Tuhan sedang berbicara melalui hati kita. DIA mau kita mengikuti kehendak-Nya, bukan kehendak kita sendiri.

Semoga kita bisa mempunyai hati yang peka dan membuat Tuhan Yesys Kristus sebagai tuan atas hati kita.

Tuhan memberkati.

Kamis, 25 Oktober 2012

Ketika Tuhan Menjawab 2

Hari ini adalah hari minggu dan seperti biasa saya pergi ke gereja. Pada waktu pagi hari terlintas hal yang sebenarnya agak aneh untuk sesuatu yang terpikir dalam otak ini.

Keluaran 16:2-3 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."

Ayat diatas adalah ayat yang menceritakan tentang keadaan orang-orang Israel yang sudah dibebaskan oleh Tuhan dari tanah perbudakan Mesir dan mereka sedang dalam perjalanan ke tanah perjanjian. Dalam perjalanan mereka mengeluh kepada Tuhan, karena mereka merasa, meskipun mereka diperbudak oleh Mesir, mereka tetap bisa menikmati daging dan makanan yang berlimpah. Sedangkan saat mereka dalam perjalanan ke tanah perjanjian mereka tidak mendapatkan makanan yang sebanding dengan yang ada di mesir.

Melalui ayat ini saya diingatkan, bahwa terlalu banyak, bahkan bisa dibilang terlalu sering mengeluh. Mengeluh akan keadaan yang saya bandingkan dengan masa lalu saya. Di masa lalu saya bisa menikmati banyak hal. sedangkan sekarang, rasanya begitu tidak berarti.

Cerita tidak berhenti di sana. Di gereja saya mendengarkan Firman yang disampaikan. Firman tersebut menceritakan tentang Yusuf yang mendapatkan mimpi bahwa dia akan menjadi seorang pemimpin, tetapi dalam perjalan hidupnya dia mengalami banyak hal, dari dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah samapi dipenjarakan meskipun dia tidak bersalah.

Yusuf diijinkan melalui proses yang cukup berat (menurut saya). Karena untuk menjadi seorang pemimpin, memerlukan suatu kedewasaan. Hal ini sepertinya ingin Tuhan katakan kepada saya, untuk menjawab doa-doa saya.

Saat ini saya sedang mencari pasangan hidup. Saya berdoa, meminta kepada Tuhan untuk memberikan seseorang yang bisa menjadi pendamping hidup saya. Tetapi memang saya sering mengeluh kepada Tuhan tentang banyak hal. Hal ini lah yang menjadi penyebab, kenapa Tuhan sampai melintaskan ayat-ayat tersebut.

Pembicara didepan menceritakan tentang hal mencari pasangan hidup. "Mintalah pasangan yang mencintai Tuhan, bukan pasangan yang mencintai kita." Hal ini dikatakannya karena ketika seseorang mencintai Tuhan, orang tersebut secara tidak sadar akan mencintai pasangannya.

Terima kasih Tuhan. Hal ini tidak mudah aku terima, tetapi aku sadar, orang yang dulu pernah aku cintai dengan sepenuh hati, ternyata tidak mencintai Tuhan. Mungkin aku bisa salah, tetapi aku percaya, semua yang terjadi adalah yang terbaik Tuhan sediakan bagiku.

Belajar berjalan bersama Tuhan. Meskipun tidak mudah, tetapi Tuhan sediakan. Jangan banyak mengeluh, tetapi penuhi hari-hari kita dengan ucapan syukur.

Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.


Thank You Lord. I love You Lord Jesus.

God Bless Us...


Rabu, 10 Oktober 2012

Ketika Tuhan Menjawab

Sudah sejak lama saya berdoa untuk meminta sesuatu kepada Tuhan. Sudah lama juga saya merindukan, Tuhan buka jalan untuk masalah yang saya hadapin ini.

Tetapi beberapa hari yang lalu, terlintas dikepala saya ayat alkitab yang menceritakan kisah Daud yang berpuasa, agar anaknya yang sakit tidak mati.

2 Samuel 12:22-23 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

Bagaimana sekarang? Apakah memang ini jawaban dari Tuhan? Apakah ini akhir dari segalanya? Bagaimana dengan kelanjutan hidup saya?

Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala saya. Saya masih tidak mengerti, apa rencana Tuhan dalam hidup saya.

Saya jadi teringat akan perkataan teman saya, "Memang berat mendengan jawaban dari Tuhan yang tidak sesuai dengan keinginan dan impian kita, tetapi jawaban itu adalah jawaban yang terbaik untuk kita."

Sulit bagi saya saat ini untuk menerima jawaban yang Tuhan berikan kepada saya. Tetapi apakah saya mempunyai hak untuk berkata "TIDAK" terhadap jawaban Tuhan? Saya rasa, saya hanya bisa menerima dan percaya, bahwa ini adalah jawaban yang terbaik untuk saya.

Roma 5:1-5 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Saya akan tunggu kejadian berikutnya yang disiapkan oleh Tuhan untuk saya. Dan bila seseorang ada yang membaca tulisan ini, tolong doakan saya, agar iman saya masih bisa bertahan untuk menghadapi ini semua. Mungkin dikesempatan lain saya akan menuliskan sabungan dari kejadian yang saya alami.

Tuhan memberkati.